Puisi-puisi Mahasiswa UI (5)

August 9th, 2008 by puisiduniaasepsambodja

PERMINTAAN MAAF UNTUK LELAKIKU

: Erlinda

Maaf…

Jika aku selalu mengikuti jejak langkahmu

Jika aku selalu menuruti setiap perkataanmu

Jika aku terlalu setia padamu

Aku memang benar-benar membutuhkanmu, sayang

Karena…

Kau memang suamiku

Kau memang belahan jiwaku

Maaf…

Aku tidak bisa berpisah dengan dirimu

Walau keadaan selalu membuat kita berpisah

Walau orang-orang selalu menghendaki kita mati

Tapi…

Aku selalu mengharapkanmu

Aku selalu menunggumu

Aku selalu menantimu

Maaf…

Jika aku bukan wanita seperti dulu di matamu

Jika aku menjadi pelacur di matamu

Jika aku menjadi budak seks di matamu

Maaf…

Jika aku memberikan vaginaku kepada pria-pria itu

Jika mereka juga terpesona dengan vaginaku

Menghujamkannya dengan sebatang tongkat kayu

Maaf…

Jika aku merelakan payudaraku menjadi sarapan

Pria-pria itu

Jika mereka juga senang mempermainkan putingku

Dan tentu saja mereka kagum pada payudaraku

Mengalirinya dengan sebuah pembangkit listrik

Maaf…

Jika aku tidak tahu siapa dirimu sebenarnya

Jika aku yang kemudian selalu menafkahimu

Jika aku yang selalu memenuhi keinginanmu

Maaf…

Jika vagina ini tidak mampu menampung spermamu lagi

Jika payudara ini tidak bisa digenggam tanganmu lagi

Jika payudara dan vagina ini sudah tidak bisa

Memuaskan nafsumu lagi

Maaf…

Karena aku terlalu setia

Karena aku terlalu berharap

Menantimu

Hingga kau datang

Hingga kau kembali…

Sekali lagi maaf…

Payudara dan vaginaku bukan lagi untukmu

Bukan untuk para prajurit

Bukan untuk para maniak seks

Bukan juga untuk para lelaki

Maaf…

Hanya untuk wanita!

AKU HANYA SEBUAH JASAD

: Annisa Rufaida

Tarian, gemulai, lekukan tubuh menghiasi hariku

Cinta mempertemukanku, tapi celakalah

Cinta yang memaksaku keluar dari orang-orang yang membesarkanku

Tak pernah hadir dalam benakku

Menjadi perhiasan sangkar madu kaum adam

Yang aku tahu, aku bukan komunis,

Pembunuh jenderal-jenderal besar, pembangkang negara, bahkan atheis!

Aku hanya seorang pendamping lelaki

Mereka mencapnya “Dajal”

Kepedihan itu telah kusaksikan

Merenggut nyawa orang yang kusayang

Bersimbah darah, terhunus tombak, bermandi api

Diusungnya pula aku mengitari kampung tanpa bersisa sehelai kain pun

Kasar… tangan itu menggerayangi lekuk, lindap-lindap tubuhku

Puas mereka menikmati

Tertawa di atas kesucian yang tercabik-cabik

Aku menari dalam ketidakberdayaan

Dipandangnya tubuhku, menyentuh kemaluanku

Tinggallah aku sebatang jasad

Tanpa jiwa raga, tubuh dan ruh penari

Tak sanggup lagi bangkit menari, membuat batin ini menjerit

Membawa duka dalam kenangan, perih menusuk…

Sakit…

Tanpa kutahu kenapa aku yang dipilihnya

Merekakah yang komunis? Ateis?

Atau aku wanita yang lemah bertuhan?

Puisi-puisi Mahasiswa (4)

August 9th, 2008 by puisiduniaasepsambodja

AKU KINI

: Dian Rosanah

Aku yang teraniaya

Aku yang merasa hina

Aku tak ingin dilahirkan menjadi perempuan

Yang hanya merugi karena terlahir menjadi

Perempuan

Aku hanya hamba lemah

Tak berdaya terhadap yang berkuasa

Hingga semua terenggut sudah

Hingga semua mati rasa

Airmata sudah tak berarti

Begitu juga jeritan hati

Karena tak ada yang mengerti

Kini aku merasa sangat dingin dan sunyi

Setitik cahaya dating dari balik ruang yang sama

Airmata jatuh bersama

Mencoba bersabar meski hampa

Mencoba bernafas meski tak bahagia

Hati tenang karena berjalan berdua

Hati damai karena selalu bersama

Meniti waktu dan dunia

Menjalani semua hingga ajal tiba

Dan kini kota manis tempatku dulu tumbuh

Sudah berubah pahit

Sepahit hidupku

Yang tak lagi bermakna

INI AKU

: Novianti Setuningsih

Ini aku…

Ini aku…

Aku yang baru

Bukan sampah

Bukan juga pelacur

Atau bahkan komunis

Tataplah aku

Aku yang baru

Tapi dengan kedua matamu…

TAKDIR

: Pratiwi Dayangbuana

Tuhan,

Apakah ini takdir?

Kulalui masa mudaku dengan suram

Yang membuat hatiku muram

Harta berharga yang kupunya

Hilang begitu saja

Entah berapa lelaki yang menikmatinya

Aku tak punya kuasa

Tuhan,

Apakah ini takdir?

Menjadi wanita yang dilecehkan?

Di bawah terik matahari, di bawah sinar bulan,

Di tengah rerumputan…

Raga ini kepanasan, kedinginan

Tanpa sehelai benang

Raga ini kelaparan, kehausan

Tanpa makanan

Jiwa ini menjadi hina

Oleh kata-kata kotor yang kudengar

Tuhan,

Seandainya aku dapat merangkai kisahku sendiri

Kan kurangkai kisah yang sempurna

Namun takdirku berkata lain

Puisi-puisi Mahasiswa UI (3)

August 9th, 2008 by puisiduniaasepsambodja

KETIKA HIDUP BERTANYA

: Norma Juwita

Ketika hidup bertanya padamu

Tentang kegetiran

Jawab saja

Setidaknya langit masih secerah kemarin

Kicau burung masih sesemarak kemarin

Ketika hidup bertanya padamu

Tentang ideologi

Jawab saja

Yang kutahu hanya bulir-bulir padi

Hanya butuh pupuk dan air

Dan udara begitu berlimpahnya

Persetan dengan ideologi

Aku hanya mengenal cinta

Menerima badai dengan indahnya

Tanya saja tentang hidup

Mengapa pedih tercipta sebagai

Perempuan ini

Dihisap dihempas

Sepah yang menjadi sampah

Karena mengenal rinai hujan yang tak bertanya

Apa-apa

Karena merasakan sakit sebagai

Bergantinya siang dan malam

Kemarau dan hujan

Lindap berganti terang

Biar saja pahit terasa pada tempatnya

Karena kuterima

Hidup apa adanya

INGIN

: Lila P.K.

Aku tidak tahu lagi

Apa itu susah?

Apa itu mudah?

Aku hanya tahu

Aku ingin hidup

Apapun akan kupertaruhkan

Demi kelangsungan nafasku

Apapun akan kuberikan

Demi kelangsungan riwayatku

Aku hanya ingin bertahan

Tak ada lagi batas

Antara sadar dan tak sadar

Tak ada lagi rasa tersiksa

Untuk merasakan rasa

Aku tidak ingin dirasa

Aku tidak ingin merasa

Aku hanya ingin ber-asa

Depok, 16 April 2008

MUTIARA SENJA

: Aprivianti

Regang derita, nyawa terasa

Lesah suci, buai diri

Lembah dosa, kabut siksa

Getir mutiara termangsa

Dimensi kelam lambat berpejar

Getar lambai cinta berdetak

Desiran cahaya desak kalbu

Napas mutiara gapai purnama

Depok, Maret 2008

SALAH SIAPA INI!

: Putri Susanti

Hidupku diawali dengan indah

Lahir dan tumbuh

Dalam rengkuh kasih dan sayang

Salahkah aku

Memilih cinta

Yang tulus untukku

Salahkah aku

Jika pencuri hatiku

Seorang terkutuk

Salahkah aku

Ketika memilih

Berjuang bersama cintaku

Aku bukanlah perempuan suci

Yang sanggup lari dari takdirku

Aku bukanlah perempuan suci

Yang tak pernah bersentuhan dengan dosa

Lalu apa yang aku dapatkan?

Siksaan, hinaan, dan petaka

Padahal aku tidak bersalah

Aku hanya memilih orang yang salah

Sekarang,

Keturunanku pun harus menderita

Terpisah dariku dan darahku

Aku butuh pencuri hatiku

Seseorang yang dikutuk negeri ini

Yang hanya tersisa

Debu dalam angin

Mendampingi perjalananku

Menantiku kembali padaNya

TERIMA KASIH UNTUK ITU

: Ade Kurnia Irawan

Jika aku percaya Tuhan

Aku akan meminta tubuh yang indah

Tapi cuma untukku

Yang lain tak boleh

Kalau yang lain dapat juga

Akan aku kembalikan lagi

Jika aku percaya dosa

Aku akan membunuh semua orang di dunia

Tapi yang satu ini aku tak mau

Karena aku tak mau sepi

Buatlah aku percaya seperti mereka

Percaya bahwa aku ada

Percaya bahwa aku hina

Percaya bahwa aku tak bernyawa

Panggil aku jika Kau mau

Aku akan rela untuk semangat

Panggil aku jika Kau mau

Aku akan mati

Terakhir, Tuhan

Kenapa aku memilikiMu

Tapi aku tak percaya

Bahwa Kau

Ada.

TEATER UI Pentaskan Monolog PEREMPUAN DI PERSIMPANGAN ABAD di Malaysia

August 1st, 2008 by puisiduniaasepsambodja

Teater UI akan mementaskan monolog “Perempuan di Persimpangan Abad” di Malaysia pada 16 Agustus 2008. Pementasan itu digelar dalam acara Malam Puisi ASEAN 2008 yang diselenggarakan oleh Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) di Panggung Seni UKM, Bangi, Selangor, Malaysia.

Lakon “Perempuan di Persimpangan Abad” ini diilhami oleh esai Benedict Anderson yang berjudul “Petrus Dadi Ratu” di majalah Tempo No. 6, Tahun XXIX, edisi 10-16 April 2000 dan buku Suara Perempuan Korban Tragedi 65 karya Ita F. Nadia yang terbit pada 2007. Lakon tersebut bercerita tentang perempuan-perempuan korban perkosaan para serdadu pascaperistiwa Gerakan 30 September 1965.

Berdasarkan testimoni perempuan-perempuan yang luput dari maut dan sakit jiwa itulah dibuat monolog “Perempuan di Persimpangan Abad” oleh Asep Sambodja, yang juga menyutradarai pertunjukan ini. Selain itu, lagu “Genjer-genjer” yang dinyanyikan Bing Slamet dan “Jalang” yang dinyanyikan grup musik Efek Rumah Kaca memberi ruh lakon ini. Adapun pemain yang memperkuat “Perempuan di Persimpangan Abad” adalah Ika Pratiwi, Zahratun Mutmainah, Dhini Hidayati, dan Dwi Siti Aisyah.

Pementasan ini sekaligus mencermati sejarah tergelap bangsa Indonesia yang terjadi pada 1965-1966. Dalam peristiwa tersebut, pasukan pengamanan Presiden Soekarno, yakni Pasukan Cakrabirawa melakukan penculikan dan pembunuhan terhadap enam jenderal dan satu perwira tinggi Angkatan Darat (yang disebut Dewan Jenderal oleh Pasukan Cakrabirawa) di Lubang Buaya, Jakarta. Setelah peristiwa itu, Pangkostrad Mayjen Soeharto, satu-satunya petinggi Angkatan Darat yang selamat dari peristiwa penculikan dan pembunuhan itu, melakukan aksi penumpasan terhadap pelaku pembunuhan itu. Soeharto mengklaim Partai Komunis Indonesia (PKI), partai terbesar keempat di Indonesia saat itu, berada di balik peristiwa berdarah itu. Dengan demikian, ia menuntut partai itu dibubarkan dan dinyatakan terlarang. Yang terjadi kemudian bukan saja penangkapan dan pembunuhan terhadap elite-elite politik PKI, tetapi juga melukai seluruh anggota partai hingga ke “akar-akar”-nya.

Mereka yang tidak terlibat dalam peristiwa penculikan dan pembunuhan jenderal-jenderal itu juga menjadi korban. Banyak di antara mereka yang mati, masuk penjara tanpa diadili, dan gila. Nah, di antara korban itu ada yang masih bisa bertahan hidup hingga sekarang. Merekalah yang memberi pengakuan, karena perkosaan yang mereka alami tidak mungkin hilang dari ingatan. Pementasan monolog ini juga bisa ditafsirkan sebagai upaya “melawan lupa”.

Sebelumnya, pada acara Malam Puisi ASEAN yang digelar pada 30 Juli 2005, Teater UI mementaskan dramatisasi “Tanah Airmata” karya Sutardji Calzoum Bachri, dengan sutradara Anwari Natari. ***

Puisi-puisi Mahasiswa UI (2)

July 8th, 2008 by puisiduniaasepsambodja

SAMPAH DAN KEBUSUKAN

: Sulung Siti Hanum

Sampah dari nafsu

Kebusukan untuk menindih liar

Menjadi timbunan sumpah serapah

Saat mentari semestinya tersenyum

Dari rembulan mengintip di balik kabut

Sampah itu tiada henti

Menebar kebusukan

Mencari mangsa

Tanpa elak

Tanpa tolak

Demi sebuah bon malam

Sampah dan kebusukan

Bersarang di kepala dan dada mereka sendiri

Sisa kesusahan hidup

Raga derita

Siksa nestapa

Perih merintih

Tiada kata

Sambaran, tamparan

Mendarat

Jeritan, paksaan

Menjerat

Aku,

Hadir

Demi sampah dan kebusukan itu

SEBUAH HARGA DIRI YANG TERTINGGAL

: Hendi Yusup

Kebebasan hanya sebuah napas

Sehela titik terang dalam gelap

Sisanya hanya kungkung belaka

Kebebasan hanya gairah seks

Seonggok nafsu yang dibudaki kelakar sesaat

Sisanya hanya kungkung belaka

Dan

Kebebasan yang terkekang

Tak ayal hanya sebuah topeng untuk pergi

Yang meninggalkan harga diri

YA ATAU TIDAK

: Pitria Dara

1 Oktober 1965

Seperti biasa saya bekerja

Lalu, orang berseragam dan berlars menciduk saya

“Saya tak kan melarikan diri!”

Mereka menendang, menampar, menjambak

Berebut melumpuhkan saya

Mereka memilihkan dua jawaban untuk setiap pertanyaan

Ya atau tidak

Mereka hanya ingin mendengar “ya”

Hanya satu jawaban

Jika “tidak”?

Di sana, gulungan kabel bercincin

Mesin pembangkit arus listrik

Cambuk ekor pari

Jadi penanya

“Tidak”

Mesin penanya diputar

Pandangan mata kabur

Saya terpelanting di lantai

Payudara mlonyoh

Saya tak lagi punya kendali atas tubuh ini

KETIKA…

: Tuslianingsih

Ketika raga tak sanggup berontak

Ketika suara tak sanggup berteriak

Hanya nafsu yang terpuaskan

Dan tubuh yang terabaikan

Aku di sini

Dengan ketidakpastian

Tanpa rasa

Tanpa hati

Tanpa moral

UNTUK SELAMANYA

: Adrian Adinegoro

Mungkin kita memang telah ditakdirkan tuk bertemu

Aku adalah bidadari khayangan yang hendak mengunjungi bumi

Tuk memuaskan hasrat ingin tahuku

Kutemukan kau

Tak takut ku berhadapan dengan kutukan dewa demi perhentian cinta sejati

Menjalin asmara meski tak mungkin tuk bersatu selamanya

Melewati hari-hari penuh rahasia

Hari-hari penuh misteri cinta

Kutukan itu pun akhirnya datang

Sang dewata murka

Petir membakar bumi yang indah ini

Bagitu juga sang pujaan hati

Luluh lantak dihujam murka

Aku pun merana tersiksa jiwa raga

Gusti ampunilah segala khilafku

Walaupun aku tak hendak kembali ke khayangan

Aku telanjur rindu dengan pemberhentian ini

Aku tahu aku tak bisa memilikimu seutuhnya

Walau jasadmu telah tercerai

Aku hanya bisa memilikimu dalam dunia yang kita ciptakan sendiri

Kuingin kau tahu bahwa aku benar-benar menyayangimu, mengagumimu dan

Memujamu

Dengarkanlah suara hatiku ini, aku ingin mengatakan

“Aku hilang tanpamu”

Kadang memang ada ragu dan bimbang

Di hatiku

Namun, aku tetap yakin bahwa aku menyayangimu

Untuk selamanya…

Puisi-puisi Mahasiswa UI (1)

July 6th, 2008 by puisiduniaasepsambodja

PILIHAN

: Nurul Handayani

Kalau saja aku boleh memilih

Biru itu warna darah, bukan merah

Kalau saja aku boleh memilih

Perempuan itu kuat, bukan lelaki

Kalau saja ku boleh memilih

Aku orang lain, bukan diriku sendiri

Tapi aku orang terpilih

Terpilih untuk menerima pahit itu manis

Terpilih untuk menerima sakit itu sehat

Terpilih untuk menerima tangis itu tawa

Tak apa. Ku yakin

Aku dipilih bukan tanpa sebab

Aku dipilih dengan tujuan

Biar mereka tahu sendiri

Aku sesungguhnya sudah memilih

Untuk dipilih

HITAM PUTIH

: Wilujeng Trisyani Dewi

Dunia ini

Penuh dengan

Hitam putih

Tapi yang hitam tidaklah selalu hitam

Dan yang putih tidak selalu putih

Indahnya dunia

Kadang membuat kita lupa

Penderitaan, kesakitan, kekecewaan

Harapan yang pupus, jiwa yang nelangsa, raga yang remuk

Di bumi ini

Di negeri ini

Masih terdapat banyak ketidakadilan

Hitam yang diputihkan

Dan putih yang dihitamkan

Tetapi jelaga selamanya hitam

Kapas selamanya putih

Sedang abu-abu

Biarlah tetap abu-abu

LUMPUH TAPI TAK LAYU

: Molina Daely

Hitam dan putih semua sama di mataku

Yang ada sekarang hanya warna kelabu

Benar dan salah tak ada arti

Aku sudah tak punya hak lagi

Siksa, siksa terus sampai mampus

Dasar orang-orang tidak becus

Yang keluar hanya kata-kata yang sama

Tidak… tidak … tidak tahu!

Pukul

Tendang

Setrum

Silakan pakai cara apa saja

Tapi kalian tak akan dapat yang kalian mau

Karena aku pun tak tahu apa dosaku

Siksa, siksa terus sampai mampus

Dasar orang-orang tidak becus

Yang keluar hanya kata-kata yang sama

Tidak… tidak … tidak tahu!

Kalian bisa lumpuhkan kakiku

Tapi semangatku tidak pernah layu

Terus membara di hari yang baru

Sampai tubuh ini jadi tulang dan abu

Dari Tuhan ku datang

kepadaNya kukembali

HARGA DIRIKU TELAH MATI

: Roslia Arfanti

Harga diriku telah mati

Seiring dengan cambukan dan caci

Harga diriku telah mati

Saat tubuh ini hanya segumpal daging pemuas nafsu lelaki

Harga diriku telah mati

Saat tak ada lagi rasa manusiawi

Inikah moral prajurit yang membela negeri?

Mereka tak beda dari para PKI

Binatang kejam

Pembunuh dan pemerkosa bernafsu jahanam

Berselubung kebenaran

Bermahkota kemunafikan

Harga diriku telah mati

Namun cinta kan selalu di hati

AKU WANITA

: Friska Asta Desintia

Aku wanita

berjalan tanpa kata merenungi dalamnya makna kehidupan

tunduk pada kekuasaan yang tak bisa kuelakkan, hanya

untuk mendapat cahaya surga dari kakinya

Aku wanita

selalu berharap pada gelapnya langit malam, silaunya

pancaran surya

dan bintang yang selalu bersinar terang

bahwa kuingin satu sentuhan cinta dan penghargaan

Aku wanita

hanya punya satu sekadar untuk dibanggakan

tak satu pun dapat merenggutnya, tapi kini pun ia telah sirna

setelah hati ini pun jauh hari tak lagi berharga

Aku wanita

kumampu memberikan sepasang cinta, tanpa pernah meminta

apa yang tak pernah kudapatkan darinya

setetes keinginan untuk dipuja dan disanjung dalam sebuah ikatan

Aku wanita

tak ada lagi sepatah kata yang dapat terucap, kesuali sebuah

fisik renta

yang tak lagi berharga

hanya sebuah keinginan untuk dicinta, karena

Aku wanita…

Citra Manusia dan Cinta yang Dilanda Asmara

June 20th, 2008 by puisiduniaasepsambodja

: Telaah Buku Kumpulan Puisi Kusampirkan Cintaku di Jemuran Karya Asep Sambodja

oleh Anas Prambudi

Pendahuluan

Puisi adalah karya seni yang puitis. Puitis dikonotasikan mengandung nilai yang khusus dan punya arti yang dalam. Dalam karya sastra, aspek puitis dapat disebut puitis bila hal itu membangkitkan perasaan, menarik perhatian, menimbulkan tanggapan yang jelas, dan menimbulkan keharuan. Dalam menghadapi sebuah puisi, bukan hanya pada unsur kebahasaan yang meliputi serangkaian kata indah. Akan tetapi, merupakan kesatuan bentuk pemikiran atau struktur makna yang meliputi ungkapan pikiran dan perasaan penyair serta bahasa yang digunakan. Penyair mempunyai maksud tertentu dibalik baris-baris dan bait-bait yang disusun sedemikian rupa. Begitu juga dengan maksud digunakannya kata-kata, lambang, kiasan, dan sebagainya (Pradopo, 1990: 13).

Usaha memahami puisi tidak dapat terikat pada salah satu pendekatan saja karena setiap puisi memiliki karakter tersendiri, baik karakter yang ditentukan oleh penyairnya, temanya, nadanya, maupun karakter yang diwarnai oleh kenyataan sejarah pada saat puisi itu diciptakan. Karakter puisi juga tidak lepas dari citra manusia. Citra manusia dan puisi adalah dua hal yang saling berkaitan. Citra manusia, dalam hal ini, memiliki pengertian kesan, bayangan, atau gambaran manusia. Sebagai suatu produk budaya, puisi tentu tidak dapat melepaskan diri dari persoalan-persoalan kemanusiaan. Analoginya, sebuah karya sastra, seperti puisi, selalu menghadirkan kehidupan manusia, karena pada dasarnya tiap karya sastra itu berisi obsesi sastrawan tentang kehidupan dan dalam kehidupan selalu hadir manusia (Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 1994: 13-14).

Puisi itu merupakan rekaman dan interpretasi pengalaman manusia yang penting, diubah dalam wujud yang paling berkesan (Pradopo, 1990: 7). Wujud pengalaman manusia yang paling berkesan adalah hubungan antarpersonal. Hubungan antarpersonal memperlihatkan jalinan perasaan satu sama lain. Jalinan perasaan itulah yang kita kenal dengan sebutan cinta. Cinta senantiasa membuat manusia menjadi puitis. Oleh karena itu, puisi merefleksikan cinta, dan berarti pula menampilan citra manusia tertentu. Citra manusia itulah yang coba diungkapkan dalam telaah puisi bertemakan cinta.

Dalam telaah buku kumpulan puisi yang berjudul Kusampirkan Cintaku di Jemuran karya Asep Sambodja, Sang penyair merefleksikan tema cinta secara universal dalam setiap puisinya. Cinta kepada Tuhan, cinta kepada keluarga, cinta kepada kekasih, cinta kepada sahabat, dan cinta kepada bangsa dan negara adalah tema dalam puisi-puisinya. Sebagai penulis, saya memfokuskan telaah buku kumpulan puisi Kusampirkan Cintaku di Jemuran berdasarkan hubungan antara cinta dan citra manusia yang dilanda asmara saja. Fokus tema tersebut saya pilih karena bagi saya tema cinta adalah tema yang universal untuk dibahas. Setiap manusia pernah jatuh cinta, dan cinta menjadi bagian yang tidak terpisahkan dengan pencitraan manusia. Jatuh cinta selalu membuat orang dapat mengekspresikan perasaannya dengan lebih jujur. Sehingga, citra manusia yang menjadi topik bahasan dalam telaah ini dapat dengan mudah dianalisa.

Cinta dan Citra Manusia dalam Puisi “Kukirimkan Rinduku Lewat Gerimis”

Salah satu puisi yang bertema cinta yang dilanda asmara dalam buku kumpulan puisi Kusampirkan Cintaku di Jemuran ialah puisi “Kukirimkan Rinduku Lewat Gerimis”. Puisi “Kukirimkan Rinduku Lewat Gerimis” bercerita tentang seorang laki-laki yang rindu dengan kekasihnya. Si laki-laki, aku lirik, menggunakan ungkapan ‘gerimis’ sebagai media dalam mengirimkan rindunya. ‘Gerimis’ dalam hal ini bisa berarti cinta karena pilihan kata ‘gerimis’ menyiratkan tentang keadaan pilu.

kukirimkan rinduku lewat gerimis

yang menyirami pohon kelapa

di depan rumahmu –

Cinta tidak harus selalu merasa bahagia. Kadang-kadang cinta juga bisa membuat manusia sedih. Sedih karena perasaan aku lirik kacau balau, kemungkinan karena sebuah konflik yang belum terselesaikan. Keadaan pilu yang dirasakan oleh aku lirik, diperkuat dengan larik yang menyatakan ‘kalah dan menang’. ‘Kalah dan menang’ berarti memang terjadi konflik antara aku lirik dengan kekasihnya.

sesungguhnya siapa yang menang?

mestikah aku senang, jika kau datang

merindu?               

mestikah kau senang, jika kuterduduk

merindu?

Aku lirik adalah sosok seorang manusia yang besar hati karena mencintai seseorang butuh kedewasaan dan rasa pengertian. Aku lirik menggambarkan citra manusia yang menghargai cinta berdasarkan rasa pengertian. Citra manusia yang mencintai pasangannya dengan tulus, yang rela berbesar hati demi tercipta langgengnya hubungan.

tak perlulah kita timpang

biarlah kau dan aku yang menang

biarlah kau dan aku meradang

biarlah cinta memenjarakan kita

kerna baru kutahu,       

jika cinta memenjarakan kita,

kok rasanya bagaimana, gitu.

Cinta dan Citra Manusia dalam Puisi “Cinta Itu”

Puisi kedua dalam buku kumpulan puisi Kusampirkan Cintaku di Jemuran adalah puisi berjudul “Cinta Itu”. Puisi ini bercerita tentang seorang laki-laki yang sangat mencintai seorang perempuan. Akan tetapi, cinta laki-laki ini, tokoh aku lirik, tertahan oleh ketidakmungkinan kondisi yang terjadi antara aku lirik dengan perempuan yang ia cintai. Ketidakmungkinan kondisi itu karena mereka berdua telah mempunyai kekasih. Cinta yang begitu besar, namun tidak bisa dipaksakan karena masing-masing ‘terkepung labirin’. Meskipun begitu, mereka berdua menikmati kenyataan itu.

langkahku tertunda padamu

aku terkepung bisu

angin dan angin senantiasa

yang mendekap

begitu dekat jarak       

antara kau dan aku

tapi selalu saja lepas

setiap pandang

kita sama terkepung labirin

indah, memang indah, biarpun semu

bukankah kita nikmati keindahan itu

tanpa kata –

meski semu?

            Hubungan antara aku lirik dengan perempuan yang ia cintai, tokoh kamu lirik, masih hanya sebatas teman karena dalam larik berikutnya terdapat kata ‘kesetiaan’. Hal ini mengartikan bahwa mereka berdua tidak selingkuh. Mereka masih setia dengan pasangan masing-masing.

kesetiaanku dan kesetiaanmu

sama-sama dipertaruhkan

dalam hidup yang gombal ini

meski begitu:    

cintaku selangit padamu

            Aku lirik sepertinya tidak berniat memperjuangkan rasa cintanya terhadap kamu lirik karena larik puisinya berhenti pada kalimat ‘cintaku selangit padamu’. Aku lirik lebih memilih memendam rasa cintanya di dalam hati. Citra manusia yang digambarkan aku lirik adalah manusia yang mengedepankan perasaan orang lain daripada perasaannya sendiri. Aku lirik memikirkan perasaan kekasihnya sehingga ia tidak mengedepankan egonya untuk meninggalkan kekasihnya demi kamu lirik. Meskipun begitu, perasaan cinta aku lirik kepada kamu lirik begitu besar.

Cinta dan Citra Manusia dalam puisi “Rayuan Seorang Laki-laki pada Seorang Perempuan dengan Kata-kata yang Mendayu-dayu”

            Puisi ketiga berjudul “Rayuan Seorang Laki-laki pada Seorang Perempuan dengan Kata-kata yang Mendayu-dayu”. Puisi ini berisi kata-kata rayuan untuk memikat hati seorang gadis. Rayuan ini diucapkan oleh aku lirik kepada seorang gadis dengan maksud ingin melamarnya. Dalam lariknya, puisi ini menjelaskan karakter aku lirik yang idealis. Aku lirik menggambarkan dirinya sebagai seorang manusia yang apa adanya. Ia tidak terlalu mementingkan kekayaan, pangkat, apalagi istri yang banyak. Ia cuma ingin mencintai gadisnya dan bisa menjalani kehidupan bersama dengan gadisnya.

oh, kasih

apalah aku ini

yang tak punya apa-apa

apalah kerjaku ini –

bagiku,

kerja bukanlah untuk mencari kebahagiaan

kerja adalah kebahagiaan itu sendiri

maka aku tak tergiur uang

tak tergiur jabatan

maka apakah aku ini

yang tak mau mengagungkan uang

tak mengagungkan perempuan

karena, bagiku,

cukuplah satu istri

yang kukasih

dan kumau kau

yang kukasih

sampai-sampai

padaNya

            Sosok aku lirik menggambarkan citra manusia yang idealis dan tidak ambisius. Ia mencintai pekerjaannya, kehidupannya, dan gadis yang dicintainya dengan tulus. Ia tidak berharap sesuatu yang lebih. Ia adalah sosok manusia yang jarang sekali ditemui. Kebanyakan manusia gila jabatan, harta, dan wanita. Akan tetapi, pencitraan manusia yang digambarkan aku lirik berbeda. Aku lirik adalah citra manusia yang cinta idealisme.

Cinta dan Citra Puisi dalam Puisi “Kusampirkan Cintaku di Jemuran”

            Puisi keempat berjudul “Kusampirkan Cintaku di Jemuran”. Puisi ini bercerita tentang seorang manusia yang putus asa. Putus asa untuk mencintai dan dicintai. Manusia ini, tokoh aku lirik, merasa tidak berguna dalam menjalin percintaan karena hubungan cintanya selalu kandas.

            kusampirkan cintaku di jemuran

karena luka dan airmata

dan bila ada angin

kubiarkan terbang entah ke mana

karena cintaku usang dan berlubang

            Aku lirik sepertinya mencintai seseorang, kamu lirik. Akan tetapi, cintanya tidak terbalas. Ia hanya bisa mencintai dari jauh. Ia merasa seperti seorang pecundang karena terdapat larik yang menyatakan ‘bila ada mentari/ makin jelas koyak cintaku/’. Hal ini menunjukkan aku lirik benar-benar merasa jatuh. Dari larik-larik yang terdapat dalam puisi, ia tidak menunjukkan semangat atau harapan.

            bila ada mentari

makin jelas koyak cintaku

dan kubiarkan begitu

bila hujan tak pergi

berarti damai dan air mataku basah

bila kau kedinginan di malam gelap

kubiarkan cintaku kaudekap

hanya kehangatan yang kuberi

karena cintaku robek dan tak mengkilat

            Dari puisi di atas, citra manusia yang digambarkan aku lirik ialah manusia yang putus asa terhadap cinta. Manusia yang gagal menjalani hubungan percintaan. Manusia yang menyerah dan tidak mau berusaha mengubah nasib cintanya. Citra manusia yang memilih untuk tidak mencintai ketimbang mencintai tetapi sakit hati.

            

Penutup

            Cinta yang terkandung dalam setiap puisi di dalam buku Kumpulan Puisi “Kusampirkan Cintaku di Jemuran” karya Asep Sambodja memiliki keterkaitan dengan perasaan seorang manusia. Seorang manusia yang mengungkapkan cinta secara tidak langsung manusia tersebut mengekspresikan aspek puitis dalam dirinya. Puisi sebagai unsur puitis sastra, mengekspresikan maksud yang sama dengan seseorang yang tengah dilanda cinta. Keharuan, kegembiraan, dan kebencian adalah hal yang dirasakan oleh seseorang yang tengah dilanda cinta. Puisi cinta yang berasal dari buku kumpulan puisi ini memiliki keterkaitan dengan hal itu. Dengan demikian, aspek puitis cinta dan citra manusia merupakan satu corak puisi yang sama.***

Peta Politik Sastra Indonesia (1908-2008)

June 3rd, 2008 by puisiduniaasepsambodja

oleh Asep Sambodja

Abstrak

Bagaimanakah peta politik sastra Indonesia selama 100 tahun (1908-2008) belakangan ini? Dalam makalah ini akan dijelaskan secara deskriptif peta politik sastra Indonesia dalam satu abad kebangkitan nasional. Kita tahu bahwa perkembangan politik di Indonesia sangat berpengaruh dalam perkembangan sejarah sastra Indonesia. Siklus perubahan politik 20 tahunan, misalnya, bisa terbaca dalam penyebutan angkatan yang diberikan kritikus sastra H.B. Jassin. Di masa kolonialisme, pengaruh itu tampak dalam karya sastra, baik yang memiliki semangat antikolonialisme di zaman Belanda maupun berkembangnya simbolisme di zaman Jepang akibat situasi yang sangat represif. Di masa pemerintahan Soekarno, perbedaan ideologi yang demikian tajam juga berdampak langsung terhadap perkembangan sastra Indonesia, yakni dengan merasuknya ideologi dalam diri sastrawan maupun dalam karya sastra yang dihasilkannya. Hal ini dapat terbaca dengan jelas dalam polemik antara sastrawan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang mengusung nilai-nilai realisme sosial dengan sastrawan Manifes Kebudayaan (Manikebu) yang mengusung nilai-nilai humanisme universal. Di masa pemerintahan Soeharto, polemik antara sastrawan Manikebu dengan sastrawan Lekra sedikit menyusut dalam paruh pertama masa pemerintahannya, namun semakin mencuat di paruh kedua masa pemerintahan Soeharto. Indikasinya adalah munculnya polemik hadiah Magsaysay pada 1995, saat sastrawan Lekra, Pramoedya Ananta Toer, memperoleh hadiah tersebut. Polemik itu dimotori oleh Taufiq Ismail, salah satu ujung tombak sastrawan Manikebu. Pemerintahan Soeharto yang cenderung sentralistis juga menimbulkan reaksi di kalangan sastrawan, yakni dengan munculnya suara-suara revitalisasi sastra pedalaman yang menolak Jakarta sebagai pusat. Selain itu, kecenderungan apolitis yang diterapkan pemerintah Soeharto juga direspons dengan gagasan sastra kontekstual yang disuarakan Arief Budiman dan Ariel Heryanto. Kini, di era reformasi, sastrawan Indonesia juga merasakan adanya kebebasan berpendapat, kebebasan berekspresi, dan lahirnya semangat untuk menghargai perbedaan (multikulturalisme). Jiwa bhinneka tunggal ika yang terdapat dalam karya sastra klasik Indonesia abad ke-14, kakawin Sutasoma karya Empu Tantular, seperti dibangkitkan kembali dalam kehidupan berbangsa dan berbudaya di Indonesia. ***

Munir yang Tak Pernah Mati

May 22nd, 2008 by puisiduniaasepsambodja

oleh Silvi Fitri Ayu

(Mahasiswa Program Studi Korea FIB UI)

            Untukmu Munir adalah sebuah buku kumpulan cerita pendek karya dua belas mahasiswa Universitas Indonesia yang disunting oleh Asep Sambodja (dosen Program Studi Indonesia FIB UI). Buku yang diterbitkan pada Maret 2008 ini merupakan bentuk kepedulian para mahasiswa terhadap kasus pembunuhan Munir yang merupakan tokoh penegak HAM di Indonesia. Seperti disebutkan pada bagian pembuka buku ini, Untukmu Munir juga merupakan buku pelengkap atas terbitnya buku-buku lain yang berisi tentang peristiwa bersejarah dalam menegakkan demokrasi dan hak asasi di Indonesia. 

Ketika pembaca mulai membaca bagian pembuka buku ini, pembaca akan mendapatkan sebuah pemikiran baru tentang arti pentingnya sebuah karya sastra dibuat oleh para penyair. Karya sastra diartikan sebagai sebuah upaya untuk menyuarakan kebenaran dan bentuk “pengabadian” peristiwa sejarah yang mungkin nantinya akan terlupakan. Pada bagian pembuka ini juga terdapat dua buah puisi, yaitu karya Goenawan Mohamad yang berjudul “Kwatrin tentang Sebuah Poci” dan karya Subagio Sastrowardoyo yang berjudul “Mata Penyair”. Kedua puisi ini semakin menekankan arti penting sebuah karya sastra. Selain itu juga ada puisi karya Asep Sambodja yang berjudul “Cak Munir di Awan” sebagai pembuka buku ini, yang menyiratkan makna bahwa “sosok Munir” akan selalu hidup di hati para penegak hak asasi manusia di negeri ini.

Buku yang terdiri dari 76 halaman ini mengangkat satu tema penting, yaitu “kematian Munir”. Para penulis dalam buku ini secara garis besar menempatkan diri mereka ke dalam empat karakter, yaitu sebagai Munir, Suciwati (istri Munir), Malaikat Pencabut Nyawa, dan teman Munir. Pada umumnya, para penulis menggunakan sudut pandang orang pertama, tetapi ada satu cerpen berjudul “Keputusan Malaikat” karya Zul Abrar H. yang menggunakan sudut pandang orang ketiga.

“Bayang-Bayang Kematian”, “Harta Berharga”, “40 G”, “Kematianku”, “Gugur di Musim Gugur”, dan “Tanya Yang Belum Terjawab” merupakan cerpen-cerpen yang bercerita tentang skenario kematian Munir pada tanggal 7 September 2004 di pesawat Garuda dengan nomor penerbangan GA-974. Keenam penulis ini memposisikan diri mereka sebagai seorang “Munir” yang mencoba menjelaskan situasi ketika maut akan menjemputnya. Dari keenam cerpen ini tidak terlalu tampak perbedaan yang sangat besar tentang skenario kematian Munir.

Hampir di keenam cerpen ini selalu muncul tokoh dr. Tarmizi dan Pollycarpus yang menjadi teman seperjalanan Munir menuju Belanda. Akan tetapi, tokoh dr. Tarmizi diceritakan sedikit berbeda pada cerpen berjudul “Bayang-bayang Kematian”. Dalam cerpen ini dr. Tarmizi diceritakan sepertinya ikut terlibat dalam pelaksanaan pembunuhan Munir. Hal ini terlihat dari beberapa kalimat, yaitu ”Aku hanya mampu mendengar penggalan-penggalan pembicaraan mereka. Satu yang kudengar jelas. Berhasil”. Sedangkan pada kelima cerpen lainnya, dr. Tarmizi hanya digambarkan sebagai tokoh yang berusaha menolong Munir dari keracunan arsenik. Tokoh Pollycarpus hanya diceritakan sebagai orang yang menawarkan kebaikan kepada Munir, yaitu untuk pindah duduk dari kelas ekonomi ke kelas bisnis. Sikap Pollycarpus yang begitu kukuh untuk membujuk Munir pindah ke kelas bisnis terasa sangat mencurigakan. Pembaca buku ini pasti akan sangat bertanya-tanya tentang kebaikan tokoh Pollycarpus. Hal ini dikarenakan tokoh Pollycarpus dalam cerpen-cerpen ini memberikan kebaikan kepada Munir dengan cara yang sangat mencurigakan dan dia memperkenalkan diri dengan profesi yang agak berbeda-beda. Namun, pada intinya setiap cerita menunjukkan bahwa Munir sendiri bertanya-tanya tentang penyebab kematiannya.

Para penulis ini melalui cerita-cerita mereka telah berhasil menjadi sosok Munir yang sangat menderita ketika racun arsenik  mulai bekerja dan merenggut nyawanya. Mereka seolah-olah telah benar-benar melihat, bahkan mengalami situasi saat itu. Sosok Munir sepertinya telah melekat dalam diri penulis-penulis ini, karena mereka begitu mudah mendeskripsikan sosok Munir ke dalam karya-karya mereka.

Berbeda dengan keenam cerpen yang telah disebutkan di atas, para penulis dari cerita “Catatan Kematian Suamiku”, “Kerinduan”, “Sebuah Perjalanan Panjang”, dan “Surat Untuk Suamiku” menempatkan diri sebagai Suciawati, yaitu istri Munir. Secara keseluruhan keempat cerpen ini merupakan gambaran tentang perasaan seorang istri yang sangat merindukan suaminya yang telah meninggal dan semangat untuk memperjuangkan keadilan demi suaminya. Rasa rindu dan kesedihan yang mendalam, terhadap suami yang telah meninggal terlihat jelas dalam cerpen “Kerinduan” dan “Surat Untuk Suamiku”. Cerpen “Kerinduan” memperlihatkan perasaan seorang istri yang begitu berat untuk melepas kepergian suaminya hingga dia pun melihat kedatangan suaminya dalam mimpi. “Surat Untuk Suamiku” ini sangat tepat diletakkan di bagian akhir buku ini karena rasa rindu dan kehilangan itu membuat bangkit sosok Suci untuk melanjutkan kehidupannya serta meneruskan perjuangan sang suami, Munir.

“Catatan Kematian Suamiku” dan “Sebuah Perjalanan Panjang” lebih menggambarkan rasa marah seorang istri dan perjuangan untuk menegakkan keadilan. Ketika pembaca membaca kedua cerpen ini, sangat terasa bahwa untuk menegakkan keadilan di Indonesia sangatlah sulit dan setiap rakyat belum dapat memperoleh haknya secara utuh dalam bidang hukum. Suciwati akan terus berjuang sekuat tenaga untuk mencari keadilan dalam kasus kematian suaminya, karena di negeri ini ”keadilan” sudah tidak memiliki tempat lagi. Instansi-instansi hukum yang seharusnya menegakkan keadilan sudah semakin kehilangan wibawanya. Pemerintah sudah tidak dapat diharapkan lagi untuk dapat menegakkan hukum.

Pembaca akan semakin tahu bahwa sesungguhnya kasus Munir belumlah terselesaikan sepenuhnya, walaupun Pollycarpus telah dijatuhi hukuman atas kasus kematian Munir. Siapa sesungguhnya dalang dari kasus Munir ini belum diketahui dengan jelas. Hal ini dikarenakan kasus Munir bukan sebuah kasus kematian biasa, tetapi terkandung unsur-unsur politik di dalamnya. Kasus kematian ini merupakan kasus kematian yang telah direncanakan secara matang dan melibatkan beberapa “petinggi-petinggi” negeri ini yang takut kejahatannya dibongkar oleh Munir. Hal tersebut tergambar dari cerpen “Keputusan Malaikat”. Kalimat-kalimat terakhir cerpen ini sangat menggambarkan perkembangan kasus kematian Munir pada saat ini. Berikut paragraf terakhir cerpen “Keputusan Malaikat”:

Berbagai sidang kemudian digelar untuk mencari tahu siapa tersangka kasus pembunuhan itu dan sampai saat ini tersangka kasus kematian itu tidak pernah terungkap. Hanya Tuhan, Malaikat Pencabut Nyawa, dan Malaikat Pencatat Takdir yang mengetahui siapakah orang yang menjadi kepanjangan tangan Malaikat Pencabut Nyawa untuk melaksanakan tugasnya.

Selain itu cerpen ini juga memperlihatkan situasi Indonesia yang sangat buruk. Negeri tercinta ini telah terkenal dengan kekacauannya dan banyak peristiwa pelanggaran hak asasi manusia. Indonesia telah menjadi sebuah negeri yang mengagungkan penindasan dan telah mengubur semangat keadilan.

Cerpen “Terbungkam” semakin memperlihatkan bahwa sesungguhnya bangsa ini belum merdeka. Penggalan bait lagu “Indonesia Raya” diawal cerpen ini menambah kepiluan akan situasi negeri ini. Semangat kebangsaan dalam lagu itu seamakin membuat kita pilu karena sesungguhnya kita bukanlah bangsa yang merdeka. Sekarang negeri ini kembali dijajah oleh kemunafikan dan penindasan.

Diceritakan lewat cerpen “Terbungkam” tentang salah seorang sosok teman Munir yang sangat mengagumi sosok Munir yang sangat berani dalam membela kebenaran. Teman Munir ini sangat menyadari bahwa bangsa ini sedang dalam masa kebobrokan. Akan tetapi, berbeda dengan Munir, dia tidak berani menyuarakan kebenaran itu. Rasa takut lebih menguasainya dari pada semangat untuk menyuarakan kebenaran, bahkan dia sampai melarikan diri ke luar negeri karena rasa takutnya ini. Namun, kematian Munir menyadarkan dia bahwa manusia tidak boleh takut dengan kematian, karena setiap manusia pasti akan mati. Selain itu kematian Munir juga memberikan semangat dalam dirinya untuk berani menyuarakan kebenaran dan terus melanjutkan perjuangan Munir yang tak akan pernah mati.

Sosok Munir yang berani dan bersahaja tergambar dengan sangat jelas dalam kedua belas cerpen ini. Dalam setiap hembusan napas Munir begitu terasa semangat keberanian dan keadilan. Munir bukan hanya memberikan inspirasi kepada keluarga dan teman-teman saja, tetapi setiap orang yang membaca cerita tentang Munir pasti akan sangat mengaguminya. Selain itu, kepergian Munir tidak hanya membuat sedih orang-orang terdekatnya, tetapi banyak orang di negeri ini yang menangisi kepergiannya.

Cerpen-cerpen dalam buku ini sebenarnya hanyalah salah satu media untuk menyampaikan kebenaran. Lewat sosok Munir, para punulis dalam buku ini ingin menyadarkan dan mengajak  pembaca tentang semangat keadilan yang sudah hampir tak tersisa di negeri ini. Buku ini juga ingin membuka mata kita bahwa negeri ini sedang “sakit keras”. Kita yang masih hidup sampai saat ini hendaklah mulai sadar untuk membenahi bangsa ini. Hal itu karena nasib bangsa ini sesungguhnya ada di tangan kita semua.

Munir adalah sosok teladan yang harus selalu kita contoh. Tubuh Munir boleh pergi meninggalkan kita semua tetapi semangat Munir harus dan akan selalu ada di hati orang-orang yang mencintai keadilan. Yakinlah pasti akan lahir sosok-sosok yang akan meneruskan semangat perjuangan seorang Munir. Dan kita harus menjadi sosok pengganti Munir yang tidak pernah takut untuk selalu menegakkan kebenaran dan keadilan.

Gaya bahasa yang digunakan dalam cerpen-cerpen ini pun cukup lugas dan mudah dipahami oleh para pembaca serta cocok dibaca oleh semua umur.

www.sastraindonesia.net

May 19th, 2008 by puisiduniaasepsambodja

Asep Sambodja: lahir di Solo, 15 September 1967. Lulus dari Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Indonesia (FSUI)—kini bernama Program Studi Indonesia Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI)—Depok, pada 1993, dengan skripsi berjudul “Pariksit, Interlude, dan Asmaradana: Telaah Isi Sajak-sajak Goenawan Mohamad”. Ia pernah bekerja sebagai wartawan di tabloid Bintang Indonesia, majalah Sinar, majalah Ummat, tabloid Madani, media online Satunet.com, Otogenik.com, majalah Fokus Indonesia, dan majalah sastra Imajio. Sejak 2005, ia menjadi dosen di almamaternya, Program Studi Indonesia FIB UI. Buku terbaru yang ditulisnya adalah Cara Mudah Menulis Fiksi (Jakarta: Bukupop, 2007).

Ia aktif menulis puisi. Sejumlah puisinya dimuat di beberapa media massa, antara lain Media Indonesia dan Koran Tempo, serta dalam antologi puisi, yakni Graffiti Gratitude (2001), Ini Sirkus Senyum (2002), Bisikan Kata, Teriakan Kota (2003), Dian Sastro for President!: End of Trilogy (2005), Les Cyberlettres: Antologi Puisi Cyberpunk (2005), Nubuat Labirin Luka: Antologi Puisi untuk Munir (2005), Mekar di Bumi (2006), Jogja 5,9 Skala Richter (2006), dan Legasi: Antologi Puisi Nusantara (2006). Kumpulan puisi tunggalnya adalah Menjelma Rahwana (Jakarta: Komunitas Bambu, 1999), Kusampirkan Cintaku di Jemuran (Jakarta: Bukupop, 2006), dan Ballada Para Nabi (Jakarta: Bukupop, 2007).

Ia juga menjadi editor kumpulan cerpen karya mahasiswa UI, yakni Batak is The Best! (2006; bersama Saeno M. Abdi), Tuhan buat Vasty (2007), dan Untukmu, Munir… (2008). Ia juga menulis cerpen. Salah satu cerpennya dimuat dalam antologi cerpen Batu Merayu Rembulan (2003) yang dieditori Heri Latief. Ia pun menjadi salah satu editor untuk buku Aceh Merdeka dalam Perdebatan (1999; bersama Tulus Widjanarko) dan kumpulan esai Cyber Graffiti (2001). Pada 2005-2008 menjadi penyunting pelaksana di Jurnal Susastra. Selain menjadi dosen di UI, ia juga menjadi editor di Penerbit Bukupop.
Esai-esainya dimuat di Republika dan Sinar Harapan. Beberapa esainya dibukukan dalam Cyber Graffiti: Polemik Sastra Cyberpunk (2004), Dari Kampus ke Kamus (2005), Kebenaran akan Terus Hidup (2007), dan Keindonesiaan dan Kemelayuan dalam Sastra (2007).

Ia telah menulis dua skenario, yakni Air (2000) untuk film pendidikan di BIPA FIBUI dan Rekonsiliasi (2003) untuk pementasan monolog (stand up comedy) Iwel Well di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), 6 Maret 2004. Bersama M. Yoesoev, ia menjadi Pembina Teater UI (2005-sekarang). Ia pernah menyutradarai Teater UI untuk pementasan di Panggung Seni UKM, Malaysia, dengan lakon “Khotbah” karya Rendra.
Kini ia tinggal di Puri Bojong Lestari II, Jl. Puri Lestari 28 Blok WW/29 Citayam, Depok 16920. Telepon rumah (021) 87987629, HP 08129421963, E-mail: asepsambodja@yahoo.com.This e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it
Alamat blog: http://puisiduniaasepsambodja.blogs.friendster.com/puisi_dunia_asep_sambodja/