Puisi-puisi Mahasiswa UI (5)
PERMINTAAN MAAF UNTUK LELAKIKU
: Erlinda
Maaf…
Jika aku selalu mengikuti jejak langkahmu
Jika aku selalu menuruti setiap perkataanmu
Jika aku terlalu setia padamu
Aku memang benar-benar membutuhkanmu, sayang
Karena…
Kau memang suamiku
Kau memang belahan jiwaku
Maaf…
Aku tidak bisa berpisah dengan dirimu
Walau keadaan selalu membuat kita berpisah
Walau orang-orang selalu menghendaki kita mati
Tapi…
Aku selalu mengharapkanmu
Aku selalu menunggumu
Aku selalu menantimu
Maaf…
Jika aku bukan wanita seperti dulu di matamu
Jika aku menjadi pelacur di matamu
Jika aku menjadi budak seks di matamu
Maaf…
Jika aku memberikan vaginaku kepada pria-pria itu
Jika mereka juga terpesona dengan vaginaku
Menghujamkannya dengan sebatang tongkat kayu
Maaf…
Jika aku merelakan payudaraku menjadi sarapan
Pria-pria itu
Jika mereka juga senang mempermainkan putingku
Dan tentu saja mereka kagum pada payudaraku
Mengalirinya dengan sebuah pembangkit listrik
Maaf…
Jika aku tidak tahu siapa dirimu sebenarnya
Jika aku yang kemudian selalu menafkahimu
Jika aku yang selalu memenuhi keinginanmu
Maaf…
Jika vagina ini tidak mampu menampung spermamu lagi
Jika payudara ini tidak bisa digenggam tanganmu lagi
Jika payudara dan vagina ini sudah tidak bisa
Memuaskan nafsumu lagi
Maaf…
Karena aku terlalu setia
Karena aku terlalu berharap
Menantimu
Hingga kau datang
Hingga kau kembali…
Sekali lagi maaf…
Payudara dan vaginaku bukan lagi untukmu
Bukan untuk para prajurit
Bukan untuk para maniak seks
Bukan juga untuk para lelaki
Maaf…
Hanya untuk wanita!
AKU HANYA SEBUAH JASAD
: Annisa Rufaida
Tarian, gemulai, lekukan tubuh menghiasi hariku
Cinta mempertemukanku, tapi celakalah
Cinta yang memaksaku keluar dari orang-orang yang membesarkanku
Tak pernah hadir dalam benakku
Menjadi perhiasan sangkar madu kaum adam
Yang aku tahu, aku bukan komunis,
Pembunuh jenderal-jenderal besar, pembangkang negara, bahkan atheis!
Aku hanya seorang pendamping lelaki
Mereka mencapnya “Dajal”
Kepedihan itu telah kusaksikan
Merenggut nyawa orang yang kusayang
Bersimbah darah, terhunus tombak, bermandi api
Diusungnya pula aku mengitari kampung tanpa bersisa sehelai kain pun
Kasar… tangan itu menggerayangi lekuk, lindap-lindap tubuhku
Puas mereka menikmati
Tertawa di atas kesucian yang tercabik-cabik
Aku menari dalam ketidakberdayaan
Dipandangnya tubuhku, menyentuh kemaluanku
Tinggallah aku sebatang jasad
Tanpa jiwa raga, tubuh dan ruh penari
Tak sanggup lagi bangkit menari, membuat batin ini menjerit
Membawa duka dalam kenangan, perih menusuk…
Sakit…
Tanpa kutahu kenapa aku yang dipilihnya
Merekakah yang komunis? Ateis?
Atau aku wanita yang lemah bertuhan?